Sabtu, 29 Agustus 2009

Nasi

Iya, nasi.

Satu kata, dua suku kata, empat huruf.

N-A-S-I

Sederhana, tapi begitu krusial ya? Tidak terhitung beberapa kali kita dengar frasa 'beras murah' di masyarakat, yang bisa habis diserbu pembeli dengan jangka waktu lebih cepat dari sebuah sel membelah diri, barangkali.Yah, sekalipun kualitasnya jelek lah, atau apa lah, yang penting orang-orang m********** itu bisa bersantap dengan bahagia--mengubah butir-butir putih nyaris transparan itu menjadi sosok lain yang berlekatan bagai sepasang belut (kalau kandungan glukosanya cukup tinggi alias pulen. huh.) Bertemankan lauk-pauk dengan kualifikasi standar, barangkali. Entah apa cita-citanya yang penting perut telah behasil diberi ganjalan—sebatas agar tidak berteriak riuh-rendah menyuarakan keinginan sel-sel dalam jonjot usus halus mencerna butir-butir makanan yang telah dihaluskan dengan enzim.

Meracau.

Saya hendak meracau. Persetan. Tsche. Paham sekali—sepenuh hati malah, kalau sekarang sedang puasa. Menahan hawa nafsu, katanya. Marah, sedih, senang, dijaga agar tak berlebihan. Menjadi orang yang biasa-biasa saja. Datar. Tarik nafas panjang. Tertawa tidak, tangis enggan bersuara. Seolah-olah duduk diam, tidak ubahnya patung batu di atas altar. Menunggu seseorang menghaturkan persembahan di hadapan kakinya, untuk kemudian disantap setelah mentari bertemankan ufuk barat. Yap, lembayung itu. Dengan pucuk-pucuk masjid riuh akan panggilan shalatnya. Sekarang sudah berubah. Hanya orang-orang dengan keluhan lapar dan dahaga memadati rongga tenggorok mereka. Sudah siap hidangan di depan batang hidung. Sekadar ambil. Tsche. Tuhan tak ciptakan waktu maghrib sekadar untuk menjadi sahabat di bulan puasa. Oh benar. Tentu saja saya ingat. Jangan bicara kesalehan dengan saya, bukan begitu? Betapa saya begitu kafirnya sampai harus segera dilenyapkan bersama entitas-entitas lain di muka bumi ini yang tercipta oleh tangan Sang Kreator Mutlak daripada nyala api—tinggal dan kekal selamanya dalam Hawiyah?

Orang bijak tiada mengeluh, terkatalah demikian adanya. Maka kasihanilah sahaya yang dirundung dukacita ini, paduka. Bukan mengapa, hanya karena sedang berpantang. Pantang, seharusnyalah diawali dengan yang baik, tujuannya baik pula, bukan begitu? Kenyataannya tidak. Semula lapar—berakhir dengan muntah barangkali. Penuh. Kasihani saya, tidak pandai membawa diri. Hanya menurutkan daging, nanti beroleh laknat. Astaga, apa isi paragraf ini? Kehilangan kemampuan menulis? Tipis, tipis. Akhirnya lenyap tidak berbekas lagi.

Butir-butir putih nan lekat itu. Lagi. Disodorkan sellau ke depan batang hidung saya, walaupun dalam hati ingin menampiknya. Tidak bosan mereka-mereka berkata, syukuri itu. Saya bersyukur, lihat? Mengucapkan frasa itu pun sudah. Terserah bagaimana penghayatan masing-masing. Toh mereka yang konon mahir bersyukur kadangkala melontarkan keluhan kan? Tidak baik menerima apa yang ada. Dunia ada, untuk disyukuri, memang. Dan jelaslah bukan untuk diabaikan, tolong. Tidak bisa menutup mata dari fakta yang ada, bahkan sampai bermain-main dalam frekuensi tingkat menjijikkan di pelupuk mata kita.

Dayang-dayang saya, katakanlah begitu, sudah bekerja di rumah saya selama 4 tahun—persetan dengan lebih-kurangnya. Orang mungkin berkata,’Oh, syukurlah ada dayang-dayang. Apa-apa jadi gampang kan?’ G*****, saya bilang. Ya Tuhan, karuniailah mereka dengan sedikit akal sehat dalam buah kenari dalam rongga kepala mereka. Logikanya (sayang sekali perkara macam ini belum pernah berjumpa, atau mendengar kata logika) semua memang pasti beres, bukan begitu? Duduk manis, menikmati apa itu yang telah dikerjakan oleh para dayang-dayang dan kemudian mengucapkan frasa terima kasih atas perbuatan mereka, yang sudah kita ketahui bersama bahwa mereka ‘mendapatkan tunjangan finansial’ (astaga) dari kami, mereka-mereka yang duduk manis dan kemudian menyorongkan frasa terima kasih ke telinga dayang-dayang itu.

Bukan nominalnya yang jadi masalah, sama sekali bukan. Astaga Tuhan, picik nianlah mereka yang berpikir macam itu. Lalu apa? Kepuasan, teman. Hanya itu. Ingin sekali rasa-rasanya tidak lagi menjadi orang yang benar-benar baik hati. Mengucapkan terima kasih dengan tulus (tolong catat dua frasa terakhir) atas apa yang telah mereka perbantukan di dalam hidup kita. Berhenti sekadar mengucapkan dua diksi itu atas formalitas dan melihat tanpa perasaan oh-pekerjaan-mereka-sudah-beres. Tsche.

Tidak cerdas—sudah lazimnya. Mereka yang pandai tak pernah berkenan diposisikan sebagai dayang-dayang. Tapi harusnya itu bukan alasan, bukan begitu? Jalan pikirannya absurd—tak jarang kanak-kanak. Diperintah sekali dan terlupa setelah menarik nafas. Nasi, astaga Tuhan. Makanan pokok katanya, sekalipun dalam rumah ini kenyataannya hanya saya yang bersantap dengan tumbuhan Graminae itu. Hanya satu—bukan prioritas bagi mereka yang kebanyakan pemamah biak, mungkin mendapat karunia enzim selulosa di lambung. Saya normal, yang lain juga. Perlakuannya tidak jauh berbeda. Dari siapa? Mereka yang bercokol di b****-b**** belakang rumah, dan area teritorinya adalah daerah berawalan fonem ‘b’ yang diikuti tanda bintang dan pengulangannya. Tenang, itu kata ulang murni. Macam apakah? Abnormal, saudara-saudara.

Bagi para pemamah biak: sayur (oh, apalagi?). Dikukus, lain tidak. Berulang-ulang, seolah-olah pemamah biak itu tidak ubahnya jarum-jarum yang terbingkai rapi dalam sebuah jam. Tidak bosan sekalipun menempuh arah yang sama.

Bagi saya (normal, sekali lagi): nasi. Sumber perkara tadi, tsche. Berasnya bagus, bukan asal yang tertangkap mata ketika dibeli. Perlakuannya abnormal. Keras. Tidak lebih baik daripada butirannya yang sama, tidak direndam dalam air ataupun diuapi. Sekali lagi, tolong, sama.

Keras. Tuhanku, dari empat tahun mereka bercokol di rumah ini, berapa kali mereka melakukan hal itu? Tiga ratus kali? Lebih. Tsche. Semakin imbisil—lain tidak. Piranti baru, kebiasaan sama. Tergores semua perak-perak dalam lapisan anti-karatnya. Yang berglasir merah juga. Mata sudah tidak melihatnya lagi. Kalau bisa mereka menangis, mungkin sudah meraung-raung sejak tersentuh tangan mereka. Lain waktu, berkelontangan. Butirannya menghambur dan menggores kulit. Darah bersemburan.

Dimana-mana ada keseimbangan, bukan begitu? Satu masuk, yang lain keluar. Satu datang, yang lain pergi. Tidak jauh beda, tsche. Satu tempat terisi, yang lain berhamburan. Syukur bukan salah satu piranti penting, dan sekali lagi, bukan nominalnya, astaga Tuhan. Hanya perkara abstrak nan sederhana berlabelkan ‘tanggung jawab’ dan ‘kehati-hatian’ katanya. Diletakkan di mana suatu hal abstrak itu, saudara-saudara? Tidak terbendakan, seharusnya terpateri sampai akhir zaman dalam buah kenari di kepalamu itu. Tidak lekang oleh waktu terkecuali kau lenyap dalam pergeserannya. Maka bermaklumlah kami.

Ini?

Bocah memang, bukan berarti dimaklumi karena berlaku macam itu. Saya juga masih kecil. 16 tahun, belum tahu hidup sesungguhnya itu yang macam apa. Orang bilang umur saya seharusnya 24 tahun. Terlalu muda kalau 16 tahun. Hanya ada senyum di bibir dan ucapan terima kasih. Saya belum setua itu, tapi saya akan belajar untuk menjadi macam itu.

Renungan standar, bukan begitu? Kecuali tata bahasanya absurd. Jangan dibaca. Nanti pikiran anda tak tentu arahnya. Perkara nasi. Sederhana, namun juga pelik.

Oh, ini cuma untuk saya. Persetan dengan anda :)

Lidah.cabang.dua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar